Sunday, 29 May 2011

Routinity Kills

Ketika kita bangun di pagi hari
Apakah kita memikirkan apa yang akan kita lakukan dan alami hari itu?
Ataukah kita mempersiapkan diri kita menghadapi rutinitas harian?

Ketika kita makan
Apakah kita menikmati makanan di hadapan kita?
Ataukah itu hanya sekedar hal yang harus kita lakukan beberapa kali sehari?

Ketika kita bertemu teman lama
Apakah kita sungguh-sungguh menanyakan kabarnya
Ataukah itu hanya sekedar basa-basi karena kita harus segera mengerjakan hal lain?

Ketika seseorang bercerita pada kita
Apakah kita sungguh-sungguh mendengarkannya?
Ataukah itu hanya sekedar omongan yang bukan menjadi urusan kita?

Ketika kita melakukan pekerjaan kita
Sadarkah kita apa yang kita lakukan?
Ataukah itu sekedar apa yang harus kita lakukan tanpa perlu tahu menahu lebih dalam?

Ketika kita berjalan
Apakah kita mengamati hal-hal di sekitar kita?
Ataukah kita berjalan terus tanpa peduli pada orang yang minta tolong sepanjang perjalanan?

Ketika kita berdoa
Apakah kita berdoa dari hati?
Ataukah hanya sekedar kata-kata hafalan yang diucapkan sebelum tidur?

Selagi kita hidup
Apakah kita mempercayai adanya tugas khusus yang harus kita lakukan?
Ataukah bagi kita hidup hanyalah sekedar rutinitas semasa kita ada di dunia?

Antipathy is not always a bad thing. It might show the truth in a bitter way. 
However, Apathy is the true form of evil. It shows no respect nor concern to its surroundings.

Cerita Pendek:
Konon, ada seseorang yang kerap membiarkan beberapa hal di hidupnya berjalan di luar kendalinya. Tidak pernah ia melakukan hal yang sama dalam beberapa hal tersebut. Tidak dibiarkannya rutinitas menjerat hal-hal itu. Seseorang pernah bertanya mengapa ia berbuat demikian.

Ia menjawab,"Jika aku membiarkan segala hal dalam hidupku menjadi rutinitas, di mana kah aku membiarkan Tuhan berkarya di hidupku?"

Sang penanya bertanya lebih jauh,"Apa maksudmu? Bukankah Tuhan bisa saja bekerja dalam rutinitas kita?"

Ia tersenyum dan menjelaskan,"Saat kita menjalani rutinitas, kita cenderung menutup hati kita pada hal-hal di luar rutinitas. Kita menganggap hal-hal itu sebagai gangguan dalam hidup kita. Kita membangun tembok penutup hati kita. Kita melakukan pekerjaan dan menjalani hidup bak mesin. Dalam kondisi demikian, bagaimanakah kita mau membiarkan Tuhan berkarya di hidup kita? Sesungguhnya kita malah akan secara sadar tak sadar menolak keberadaan-Nya di hidup kita."

Sang penanya tersentak mendengarnya. Ia berpamitan dan mengucapkan terima kasih. Dalam perjalanannya tak henti-hentinya ia bergumam,"Rutinitas...Menutup hati...Menolak Tuhan..."

No comments:

Post a Comment